Kamis, 08 Mei 2014

Bacillariophyceae

Bacillariophyceae



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alga  merupakan  protista  yang  bertalus,  memiliki  pigmen  dan  klorofil.
Tubuhnya  terdiri  atas    satu  sel  (uniseluler)  dan  ada  pula  yang  banyak  sel
(multiseluler).  Yang  Uniseluler  umumnya  sebagai  Fitoplankton  sedang  yang
multiseluler dapat hidup sebagai Nekton atau Bentos. Habitat alga adalah air atau
di  tempat  basah,  sebagai  Epifit  atau  sebagai  Endofit.  Klasifikasi  alga  didasarkan
pada  morfologi  sel,  sel  reproduksi,  pigmen  dalam  plastida  dari sel  vegetatif,  dan
macam  makanan  cadangan.  Semua  alga  mengandung  klorofil  tetapi  ada  pigmen
lain yang ,menyusun yang terkandung dalam plastida.
Sistem  klasifikasi  alga  bermacam-macam  bergantung  pada  dasar
mengelompokkannya.  Salah  satu  sistem  klasifikasi  ialah  menurut  Smith  (1995),
yang  membagi  alga  kedalam  4  divisi,  yaitu:  Chlorophyta,  Euglenophyta,
Phyrrophyta, dan Chrysophyta.
Salah  satu  kelas  dalam  divisi  Chrysophyta  adlah  Bacillariophyceae.
Bacillarriophyceae  adalah  alga  yang  biasa  dikenal  dengan  sebutan  diatom,  alga
ini  merupakan  tumbuhan  bersel  satu,  walaupun  diantanya  ada  yang  hidup
berkoloni. Diatom banyak dijumpai di permukaan tanah basah, misalnya di sawah,
got, dan parit. Tanah yang mengandung diatom akan berwarna kuning keemasan.
Selain  dikenal  sebagai  diatom  alga  ini  juga  dikenal  sebagai  alga  kersik,  karena
dinding selnya tersusun atas zat kersik.(azizi: 2008)
Tujuan  penulis  menulis  makalah  ini  ialah  agar  menambah  ilmu  mengenai
Bacillarriophyceae  dengan  membahas  habitat  dan  distribusi,  susunan  tubuh
Bacillariophyceae,  susunan  sel,  gerak,  perkembangbiakan,  fosil
Bacillariophyceae, serta klasifikasi dari Bacillariophyceae.

1.2  Rumusan Masalah
1.  Bagaimanakah habitat dan distribusi Bacillariophyceae?
2.  Bagaimanakah susunan tubuh Bacillariophyceae?
3.  Bagaimana susunan sel Bacillariophyceae?
4.  Bagaimanakah gerak Bacillariophyceae?
5.  Bagaimanakah perkembangbiakan Bacillariophyceae?
6.  Bagaimanakah fosil Bacillariophyceae?
7.  Bagaimanakah klasifikasi Bacillariophyceae?

1.3  Tujuan
1. Mengetahui habitat dan distribusi Bacillariophyceae
2.  Menjelaskan susunan tubuh Bacillariophyceae
3.  Menjelaskan susunan sel Bacillariophyceae
4.  Menjelaskan gerak Bacillariophyceae
5.  Menjelaskan perkembangbiakan Bacillariophyceae
6.  Mengetahui fosil Bacillariophyceae
7.  Mengetahui klasifikasi Bacillariophyceae

  










     







BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Habitat dan distribusi
     Bacillariophyceae  atau  diatom  merupakan  mikroflora  di  lingkungan  perairan
baik  di  laut  maupun  di  perairan  air  tawar,  ditemukan  di  hampir  setiap  perairan
yang  cukup  mendapat  sinar  matahari  untuk  mempertahankan  aktivitas  hidupnya.
Persebaran  hidup  diatom  kosmopolit  dan  juga  memiliki  laju  pertumbuhan  yang
tinggi.

2.2 Susunan Tubuh
     Susunan  tubuh  diatom  biasanya  uniseluler  dan  mikroskopis,  walaupun
diantaranya ada yang berbentuk koloni. Struktur selnya berbeda dengan jenis alga
yang  lain.  Bentuk  sel  diatom  bermacam-macam  dengan  bentuk  dasar  bilateral
simitris  (Pennales)  dan  radial  (Centrales).  Beberapa  tampak  seperti  perahu
sedang yang lain seperti balok, cakram atau segitiga.





  





2.3 Susunan Sel
1. Dinding Sel
     Keistimewaan  dari  diatom  ialah  dinding  selnya  (frustul)  terbuat  dari  silika.
Frustul  mempunyai  susunan  khusus  yaitu  terdiri  dari  dua  katub  yang  tumpang
tindih  menyerupai  wadah  dan  tutupnya.  Katub  bagian  atas  disebut  epiteka
(epitheca) sedangkan bagian bawah hipoteka (hypotheca).
Gambar 1. Berbagai bentuk sel
diatom
(http://withfriendship.com)
Gambar 2. Susunan tubuh
diatom
(http://oceandatacenter.ucsc.ed
u)
     Dinding  sel  disusun  oleh  pektin  dan  silika.  Deposit  silika  pada  frustul
menunjukkan  adanya  variasi  pola  yang  bergantung  pada  genus  dan  spesies.
Hendey  (1964)  membedakan  ornamentasi  diatom  kedalam  empat  type  yaitu:
Sentrik dan radial, Trellisoid, Gonoid dan Pennate.
     Terdapat  dua  tipe  dasar  lubang  pada  katub  yaitu  pore  atau  hole  (tipe  yang
sederhana) dan loculus (tipe yang komplek). Mucilage atau lendir diproduksi oleh
suatu organel  khusus  yang  terdapat  pada  diatom  dan  dikeluarkan  melalui  saluran
longitudinal (rafe).
     Frustul  disusun  oleh  silika,  juga  mengandung  sedikit  aluminium,  magnesium,
besi  dan  titanium.  Frustul  diatom  planktonik  laut  mengandung  96,6%  SiO2  dan
1,5% Al2O3 atau Fe2O3.
    Tidak  semua  bacillariophyceae  mempunyai  dinding  dari  silika,  contohnya
Phaeodactylum triconutum.
2. Protoplas
     Sitoplasma  merupakan  lapisan  kental  yang  berada  dibawah  dinding  sel.  Pada
bagian dalam protoplasma terdapat vakuola. Diatom pennate nukleusnya berada di
central  bridge  dari  sitoplasma.  Sedangkan  pada  diatom  sentrik  nukleus  berada  di
tepi  sitoplasma.  Nukleus  mempunyai  membran  inti,  satu  atau  lebih  nukleoli  dan
benang kromatin. Sel-sel vegetatif mempunyai satu inti dan diploid.
     Kromatofora  terdapat  dalam  sitoplasma.  Jumlah  dan  bentuknya  bervariasi
bergantung  pada  spesies.  Diatom  pennate  biasanya  mempunyai  satu  atau
duankromatofora.  Bila  terdapat  dua  kromatofora  biasanya  berlapis  dan  meluas
secara  longitudinal  sepanjang  sel.  Terdapat  satu  atau  beberapa  pirenoid  tetapi
tanpa  lempengan  tepung.  Kemungkinan  berfungsi  sebagai  eioplast  dan
pembentukan minyak.
     Kromatofora  mengandung  klorofil  a dan c, β  karotin  dan  xantofil.  Xantofil
khususnya  fukosantin  bergabung  dengan  diatomatin,  menyebabkan  warna  coklat
keemasan pada sebagian besar spesies, walaupun beberapa spesies berwarna hijau.
Beberapa  spesies  diatom  kehilangan  kromatofora  dan  tumbuh  sebagai  saprofit.
Cadangan  makanan  sebagai  hasil  fotosintesis  disimpan  dalam  bentuk  lemak  atau
leukosin yaitu sejenis karbohidrat.

2.4 Gerak
  Diatom  pennate  bergerak  secara  spontan.  Diatom  centrikmtidak
mempunyai  kemampuan  bergerak  sendiri.  Gerak  diatom  biasanya  melalui
serangkaian  hentakan.  Beberapa  teori  yang  terkait  dengan  gerakan  diatom  telah
diajukan.  Menurut  Muller  (1889)  gerakan  diatom  berdasarkan  pada  aliran
sitoplasma.  Gerakan  diatom  yaitu  meluncur  pada  substrat  meninggalkan  lendir.
Pendapat  lain  mengemukakan  tipe  gerakan  diatom  bergantung  pada  bentuk  rafe.
Nultch membedakannya menjadi 3 tipe, yaitu:
1.  Tipe Navicula, dengan gerakan lurus
2.  Tipe Amphora, jalannya selalu berbentuk kurva
3.  Tipe Nitzchia, membentuk kurva dengan dua lingkaran yang berbeda.

2.5 Perkembangbiakan diatom
1.  Pembelahan Sel
     Reproduksi aseksual melalui pembelahan sel yaitu dari satu sel menjadi dua sel
anak.  Peristiwa  ini  diawali  dengan  pertambahan  volume  frustul  yang
mengakibatkan  katup  (valve)  terpisah.  Segera  setelah  itu  diikuti  pembelahan  inti
secara  mitosis  dengan  benang  spindle  parallel  pada  axis  yang  memastikan
protoplas  membelah  secara  longitudinal.  Pembelahan  protoplas  sepanjang  garis
median yang terjadi setelah pembelahan inti menghasilkan dua sel protoplas anak.
Setiap  protoplas  anak  mendapatkan  separuh  dinding  sel  (katup)  dari  sel  induk
pada  satu  sisi  dan  membrane  plasma  pada  sisi  yang  lain.  Segera  setelah  itu
dibentuk  separuh  dinding  (katup)  dibagian  luar  protoplas.  Dinding  yang  baru
terbentuk cocok dengan bagian sebelah dalam dinding asal.
2.  Pembentukan Auxospora
a.  Pembentukkan auxospora pada ordo pennales
1.  Pembentukan auxospora tunggal melalui konjugasi dua sel
Dua sel  melakukan konjugasi yang tertutup oleh pembungkus gelatin. Inti
diploid  membelah  menjadi  empat  inti  haploid  melalui  proses  meiosis.  Dari
keempat  inti tersebut hanya satu yang  berfungsi, sedangkan yang tiga  mengalami
degenerasi.
2.  Pembentukan dua auxospora melalui konjugasi dua sel
     Dua  sel  diatom  saling  mendekat  berdampingan  berada  dalam  pembungkus
gelatin.  Inti  diploid  pada  setiap  sel  konjugasi  membelah  secara  reduksi
menghasilkan empat inti. Pada setiap sel dua intinya hancur. Dua gamet dibentuk
oleh  sel  yang  ukurannya  tidak  sama  (pembagian  protoplas  tidak  sama  pada
protoplas  induk).  Dua  sel  gamet  (berasal  dari  satu  sel)  kemungkinan  menyatu
dengan gamet dari sel lain.
3.  Pembentukan auxospora melalui parthenogenesis
     Dua  diatom  dikelilingi  oleh  lendir.  Inti  masing-masing  sel  mengalami
pembelahan  mitosis.  Semua  inti  kecuali  satu  melebur,  berarti  protoplas
mempunyai satu inti diploid yang fungsional. Protoplas ini lepas dan aktif sebagai
auxospora.  Akhirnya  terbentuk  dua  auxospora  dari  pasangan  sel  yang  tidak
mengalami konjugasi
4.  Pembentukan auxospora melalui autogami
     Inti  diploid  diatom  membelah  secara  meiosis  menjadi  4  inti.  Nucleus
mengalami  degenerasi  hanya  tinggal  2  yang  fungsional.  Protoplas  membelah
menjadi  2  gamet,  masing-masing  mempunyai  satu  inti  fungsional  dan  satu  inti
mengalami  degenerasi.  Penyatuan  dua  gamet  (autogami)  menghasilkan  zigot.
Setelah  periode  istirahat  zigot  membesar  dan  aktif  sebagai  auxospora  yang
kemudian membentuk katup yang overlapping.

b.  Pembentukan Auxospora pada Ordo Centrales
1.  Pembentukan auxospora melalui autogami
Epiteka dan  hipoteka terpisah ,  inti diploid  membelah  menjadi 4  inti  haploid.
Dua  diantaranya  mengalami  degenerasi  sehingga  tinggal  2  unti  dan  menyatu
membentuk kembali inti diploid. Protoplas dengan inti diploid lepas dan berfungsi
sebagai auxospora serta menghasilkan dinding yang overlapping
2.  Pembentukan auxospora melalui oogami
Protoplas  pada  sel  diatom  membelah  berulang  kali  dan  akhirnya  terbentuk  4-128  protoplas  anak  yang  berukuran  kecil,  haploid  dan  uninukleat.  Pembelahan
pertama  terjadi  secara  meiosis.  Dengan  satu  atau  dua  flagel  yang  muncul  dari
protoplas  anak  struktur  ini  disebut  gamet    jantan.  Sel  yang  menghasilkan  gamet 
jantan  adalah  anteridium  dan  sel  yang  menghasilkan  telur  adalah  oogonium.  Inti
yang  diploid  menghasilkan  4  inti  haploid  melalui  proses  meiosis.  Dari  keempat
inti  tersebut,  3  mengalami  degenerasi  hanya  tinggal  1,  sebagai  telur.  Satu  sel
gamet  jantan  masuk  kedalam  oogonium  dan  menyatu  dengan  telur  membentuk
zigot.  Zigot  membesar  dan  kemudian  tumbuh  menjadi  auxospora.  Biasanya
menghasilkan dinding yang overlapping.

2.6 Fosil Diatom
     Setelah  sel  diatom  mati  frustulnya  biasanya  larut,  tetapi  pada  lingkungan
tertentu frustul tetap utuh dan mengendap di dasar perairan sebagai fosil diatom.     
     Fosil  diatom  dapat  ditemukan  di  berbagai  belahan  dunia  di  dasar  bagian
lingkungan akuatik baik air tawar maupun air laut. Fosil diatom dari spesies  laut
yang  terbesar  terdapat  di  USA  yaitud  di  Lompoc,  Calofornia,  yang  terbentang
bermil-mil  dengan  ketebalan  sekitar  200  meter.  Fosil  diatom  yang  lebih  tebal
ditemukan di ladang minyak Santa Maria California. Fosil diatom juga didapatkan
di danau Florida melalui pengerukaan dengan pompa hisap.
  Industri  menggunakan  fosil    diatom  secara  bervariasi.  Salah  satunya
digunakan  sebagai  bahan  penggosok  pada  pasta  gigi  dan  pemoles  logam.  Fosil
diatom  juga  digunakan  sebagai  absorbent  liquid  nitroglycerin  untuk  membuat
dinamit.  Disamping  itu  juga  digunakan  dalam  filtrasi  liquid
khususnyapenyulingan gula.
  Diatom dapat hidup di air laut, payau bahkan air tawar. Karena perbedaan
tempat  hidup  tersebut  fosil  diatom  dapat  digunakan  untuk  menentukan  apakah
sedimen berasal dari laut atau tidak.
  Analisis  sedimen  yang  terdiri  atas  sisa  diatom  dapat  memberikan
informasi  tentang  kondisi  lingkungan  masa  lalu.  Metode  ini  telah  dipakai  untuk
mengetahui  bagaimana  karkteristik  yang  telah  berubah  pada  periode  Quarterner
khususnya  dalam  hubungannya  dengan  manusia,  eutrofikasi  dan  acidifikasi  atau
merekontruksi ulang iklim masa atau kondisi masa lalu di laut.
  Fosil diatom yang paling tua berasal dari awal periode cretaceuse (120 juta
tahun lalu) yaitu dari kelompok diatom centrik yang hidup di laut. Lautan pertama
yang  memiliki  kelompok  diatom  pinnate  tampak  pada  akhir cretaceuse  (  70  juta
tahun  lalu  ).  Diatom  air  tawar  yang  hidup  pada  awal  periode  Tersier  (  60  juta
tahun lalu ) yaitu dari kelompok pinnate.

2.7 Klasifikasi
     Bacillariophyceace dapat dibagi menjadi 2 ( dua ) ordo yaitu :
1.  Ordo  Centrales:  Ornamen  tipe  radial  atau  genoid  mempunyai  beberapa
kloroplas.  Tidak  mempunya  rafe,  membentuk  spora  istirahat,  spermatozoa
motil  dengan  flagelium  tunggal  tipe  tinsel,  reproduksi  seksual  dengan
Oogamous. 
2.  Pennales  :  ornamentasi  tipe  pennate  atau  trelisoaid,  dengan  satu  atau  dua
kloroplas,  kemungkinan  mempuntyai  refe,  spermatozoa  tidak  mempunyai
flagel, seksual reproduksi dengan konjugasi.

















BAB III
KESIMPULAN
3.1  Kesimpulan
Bacillariophyceae atau diatom merupakan mikroflora di lingkungan perairan.
Susunan  tubuh  diatom  biasanya  uniseluler  dan  mikroskopis,  walaupun
diantaranya  ada  yang  berbentuk  koloni.  Susunan  sel  terdiri  dari  dinding  sel  dan
protoplas.gerak  pada  diatom  menurut  Nutch  dibdakan  menjadi  gerak  tipe
Navicula,  tipe  Amphopora,  dan  tipe  Nitzchia.  Perkembangbiakan  melalui
pembelahan  sel,  pembentukan  auxospora,  dan  statospora.  Fosil  diatom  dapat
ditemukan di  berbagai  belahan dunia di dasar  bagian  lingkungan akuatik  baik  air
tawar maupun air laut.

3.2  Saran
Setiap  organisme  yang  hidup  di  muka  bumi  ini  pasti  memiliki  manfaat
tersendiri  bagi  makhluk  hidup  lain  dan  bagi  lingkungan,  karena  itu  hendaknya
kehidupan  dari  organisme-orgabisme  tersebut  tidak  dirusak  dan  diajaga
kelestariannya.















DAFTAR PUSTAKA

Saptasari,  murni,  dkk.  2007.  Buku  Ajar  Botani  Tumbuhan  Bertalus.  Malang:
Universitas Negeri Malang
Azizi, abdul. 2008. Dan alam pun bertasbih. Jakarta: Balai Pustaka
Ali, iqbal.2009. diatom.
(online).(http://iqbalali.com/2009/05/09/diatome/),  diakses  tanggal  10
februari 2012
Anonimc.2011. bentuk sel diatom.
(online).( http://withfriendship.com), diakses tanggal 02 April 2012
Anonimc.2011. susunan tubuh diatom.
(online). (http://oceandatacenter.ucsc.edu), diakses tanggal 02 April 2012



KANDUNGAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER ALKALOID, FLAVONOID, DAN TERPENOID BEBERAPA EKSTRAK DAUN


KANDUNGAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER ALKALOID, FLAVONOID, DAN TERPENOID BEBERAPA EKSTRAK DAUN

A.      Data
No.
Daun
Flavonoid
Terpenoid
Alkaloid
1.
Tempuyung
+
-
-
2.
Mengkudu
+
-
-
3.
Pandan
+
-
-
4.
Katuk
+
-
-
5.
Binahong
-
+
-

B.       Analisis Data
Berdasarkan hasil praktikum pengujian metabolisme sekunder pada daun beberapa daun diketahui bahwa daun tempuyung, mengkudu, pandan, dan katuk mengandung flavonoid, sedangkan daun binahong mengandung terpenoid. Adanya kandungan flavonoid pada keempat daun tersebut diketahui dengan melakukan uji flavonoid yaitu dengan menambahkan NaOH 10% pada beberapa tetes ekstrak daun binahong dalam plat tetes. Ekstrak daun tempuyung, mengkudu, pandan dan katuk warnanya menjadi kuning yang berarti positif mengandung flavonoid, sedangkan pada ekstrak daun binahong warna tidak berubah menjadi kuning.
Uji salkowski dilakukan untuk mengetahui adanya senyawa terpenoid dalam daun. Sebanyak 0,5 gram ekstrak daun ditambahkan dengan 2 ml kloroform (CHCl3). Kemudian ditambahkan asam sulfat pekat. Dari pencampuran larutan tersebut terbentuk warna merah coklat diantara 2 lapisan pada ekstrak daun binahong yang menunjukkan adanya senyawa terpenoid, sedangkan Ekstrak daun tempuyung, mengkudu, pandan dan katuk tidak terbentuk warna merah coklat diantara 2 lapisan yang berarti keempat daun tersebut tidak mengandung senyawa terpenoid.
Pengujian terakhir adalah uji alkaloid dengan pereaksi Wagner. Pengujian dilakukan dengan menambahkan CHCl3 dan ammonia 0,005 M ke dalam 4 gram ekstrak, kemudian ditambahkan H2SO4 2 M. Selanjutnya dikocok hingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan yang terbentuk ini ditambah dengan pereaksi Wagner. Hasil positif adanya aklaoid dalam daun dapat diketahui dengan adanya endapan coklat pada larutan. Pada pengamatan ini kelima daun menunjukkan hasil negatif karena tidak terbentuk endapan coklat pada larutan.

C.      Pembahasan
              Praktikum ini bertujuan mengetahui keberadaan metabolit sekunder Flavonoid, Terpenoid, dan Alkaloid pada daun tempuyung, mengkudu, pandan, katuk, dan binahong. Tempuyung atau Sonchus  arvensis L.  (Asteraceae)  dikenal  dengan beberapa  nama  daerah  antara  lain;  Lobak  air, Lempung  jombang  dan  lain-lain,  merupakan tumbuhan  herba  yang  menahun,  tegak mengandung getah, mempunyai akar tunggang yang kuat. Tumbuhan ini hidup liar di Jawa, di  daerah  yang  banyak  hujan  pada  ketinggian 50-1650 m dpl. Tumbuh di tempat terbuka atau sedikit terlindung di tempat  yang bertebing,  di pematang, di pinggir saluran air (Heyne, 1987 dalam Chaerul 2003).
Mengkudu  termasuk  jenis  tanaman  pohon  dan  berbatang  bengkok, ketinggian  dapat  mencapai  3-8  m.  Daun  tunggal  dengan  ujung  dan  pangkal kebanyakan runcing. Buahnya termasuk buah bongkol, benjol-benjol tidak teratur, berdaging,  jika  masak  daging  buah  berair.  Buah  masak  berwarna  kuning  kotor atau  putih  kekuning-kuningan  dengan  panjang  5-10  cm,  lebar  3-6  cm (Suryowinoto, 1997 dalam Dewi, 2010). Salah satu kandungan mengkudu adalah antrakuinon dan scolopeti yang aktif sebagai anti mikroba, terutama bakteri dan jamur. Senyawa antrakuinon dapat melawan bakteri Bacillus subtilis dan E. coli. Senyawa Scolopetin sangat efektif sebagai unsur anti peradangan dan anti alergi (Bangun dkk., 2002 dalam Purba S. 2007).
Tanaman pandan termasuk famili Pandanaceae, genus Pandanus. Pandan tumbuh di daerah tropis dan merupakan tanaman perdu tahunan dengan tinggi 1–2 m. Khasiat tanaman ini adalah sebagai rempah-rempah, bahan penyedap, pewangi dan pemberi warna hijau pada masakan atau penganan dan bahan baku pembuatan minyak wangi. Selain itu pandan juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mencegah rambut rontok, menghitamkan rambut, menghilangkan ketombe, mengobati lemah saraf (neurastenia), tidak nafsu makan, rematik, sakit disertai gelisah. Daun pandan mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloida, saponin, flavonoida, tanin, polifenol, dan zat warna. Kandungan zat kimia seperti senyawa tannin, flavonoid, saponin, alkaloid, dan polifenol merupakan senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan yang bersifat sebagai antibakteri (Prameswari, 2013).
Daun katuk (Sauropus androgynus) selain sebagai tanaman obat juga memiliki kandungan gizi yang tinggi karena mengandung protein, vitamin, serta mengandung zat anti bakterial sehingga menjadikan katuk sebagai tanaman yang sangat bermanfaat. Daun katuk (Sauropus androgynus) dapat meningkatkan efesiensi metabolisme zat-zat gizi karena kaya akan mineral dan mengandung 6 senyawa sekunder utama yaitu, monometyl succinate, cis-2-metyl cyclopentonal asetat, asam benzoat, asam fenil malonat, 2-pyrolidion dan metyl pyroglutamate β-karotin (Agustal et al, 1997 dalam Zain, 1978) Ekstrak daun katuk memiliki aktivitas antioksidan pada tubuh manusia karena dapat menghambat radikal bebas hidroksil.
Hasil pengujian pada daun tempuyung, mengkudu, pandan dan katuk menunjukkan hasil positif yang berarti bahwa daun tempuyung, daun tempuyung, mengkudu, pandan dan katuk memiliki kandungan flavonoid. Hasil tersebut diperkuat dengan pernyataan dari Sriningsih, 2002 bahwa Tempuyung (Sonchus arvensis) dari suku asteraceae merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki beberapa golongan senyawa flavonoid. Kandungan flavonoid total di dalam daun tempuyung ialah 0.1044% (Chairul 1999 dalam Chintya, 2008). Daun dan buah mengkudu mengandung minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol, dan antrakinon (Mursito, 2002 dalam Purba S., 2007)
Daun pandan mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloida, saponin, flavonoida, tanin, polifenol, dan zat warna. Kandungan zat kimia seperti senyawa tannin, flavonoid, saponin, alkaloid, dan polifenol merupakan senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan yang bersifat sebagai antibakteri (Prameswari, dkk; 2013). Zain (1978) menyatakan bahwa daun katuk mengandung flavonoid, tanin dan alkaloid lainnya dimana senyawa tersebut bersifat antilipida. Pada ekstrak daun binahong diketahui hasilnya negatif yang berarti tidak mengandung flavonoid, sedangkan berdasarkan kajian pustaka daun binahong mengandung alkaloid, flavonoid, dan terpenoid. Flovonoid ini hanya bisa larut dengan pelarut organik, misalnya pada pelarut eter atau alkohol. Dalam penelitian ini ekstrak yang digunakan adalah hasil perebusan dengan menggunakan air, jadi air tidak mampu untuk melarutkan flavonoid yang ada pada daun binahong, akibatnya hasilnya negatif jika diuji kandungan flavonoidnya.
Flavonoid merupakan salah satu dari sekian banyak senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu tanaman, yang bisa dijumpai pada bagian daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga dan biji. Secara kimia, flavonoid mengandung cincin aromatik tersusun dari 15 atom karbon dengan inti dasar tersusun dalam konjugasi C6 - C3- C6 (dua inti aromatik terhubung dengan 3 atom karbon). Sumber lain menyatakan kandungan kimia yang terdapat di dalam daun tempuyung adalah ion-ion mineral, antara lain silika, kalium, magnesium, natrium, dan senyawa organik seperti flavonoid (kaempferol, luteolin-7-Oglukosida, dan apigenin-7-O-glukosida), kumarin (skepoletin), taraksasterol, inositol, serta asam fenolat (sinamat, kumarat, dan vanilat).
Pada uji kedua yaitu uji adanya alkaloid menunjukkan daun tempuyung, mengkudu, pandan dan katuk negatif tidak mengandung terpenoid karena tidak terbentuk warna merah coklat dintara kedua lapisan larutan. Hal ini menunjukkan bahwa tempuyung tidak mengandung terpenoid. Hal ini diperkuat dengan teori bahwa kandungan kimia yang terdapat di dalam daun tempuyung adalah senyawa organik seperti flavonoid (kaempferol, luteolin-7-Oglukosida, dan apigenin-7-O-glukosida), kumarin (skepoletin), taraksasterol, inositol, serta asam fenolat (sinamat, kumarat, dan vanilat) (Chairul 1999 dalam Chintya, 2008).
Daun dan buah mengkudu mengandung minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol, dan antrakinon (Mursito, 2002 dalam Purba S., 2007). Daun pandan mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloida, saponin, flavonoida, tanin, polifenol, dan zat warna. Kandungan zat kimia seperti senyawa tannin, flavonoid, saponin, alkaloid, dan polifenol merupakan senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan yang bersifat sebagai antibakteri (Prameswari, dkk; 2013). Padahal Zain (1978) menyatakan bahwa daun katuk mengandung flavonoid, tanin dan alkaloid lainnya dimana senyawa tersebut bersifat antilipida. Hal ini menunjukkan bahwa daun tempuyung, mengkudu, pandan dan katuk memang tidak memiliki kandungan senyawa terpenoid.
Ekstrak  binahong mengandung  triterpenoid  saponin  termasuk golongan terpenoid (Darsana, 2012). Senyawa terpenoid juga aktif sebagai daya antimikroba. Dari hasil praktikum, senyawa terpenoid sudah dapat dideteksi dengan menggunakan uji Salkowski. Untuk melarutkan terpenoid tidak harus menggunakan pelarut organik, karena kandungan terpenoid pada tumbuhan sangat banyak dan tersebaar hampir diseluruh bagian tumbuhan.
              Praktikum ketiga yaitu menguji kandungan senyawa Alkaloid. Hasil positif ditunjukkan dengan terdapatnya endapat berwarna coklat. Hasil praktikum daun tempuyung, mengkudu, pandan, katuk, dan binahong menunjukkan tidak terdapat endapan berwarna coklat, sehingga disimpulkan daun tempuyung, mengkudu, pandan, katuk, dan binahong tidak mengandung senyawa alkaloid. Hal tersebut bertentangan dengan hasil pengujian yang dilakukan sebelumnya bahwa hasil  uji  fitokimia  memberikan uji  positif  terhadap  senyawa  alkaloid, flavonoid,  saponin  dan  negatif  terhadap senyawa  saponin,  fenolik,  terpenoid  dan steroid (Murtadlo, 2013).
              Ekstraksi  bahan  aktif  dilakukan  menurut prosedur Quinn (1988) dalam Darusman et al., (1995). Ekstraksi  menggunakan  tiga  pelarut  berdasarkan tingkat  kepolarannya  yaitu  kloroform  p.a.  (non  polar), etil  asetat  p.a.  (semi  polar)  dan  metanol  p.a.  (polar) (Nurjanah, 2011). Pada  umumnya  alkaloid  sebagai  garam  dapat  larut  dalam  air  dan  sukar larut  dalam  pelarut  organik.  Bentuk  bebas/basanya  mudah  larut  dalam  pelarut organik dan sukar larut dalam air. Alkaloid-alkaloid terdapat pada tanaman tidak dalam keadaan  bebas,  tetapi  terikat  sebagai  garam  dengan  asam-asam  organik tanaman, yaitu asam maleat, oralat, suksinat, dan taurat (Sirait 2007). Senyawa alkaloid tidak terdeteksi pada uji ini karena alkaloid bersifat non polar sehingga hanya larut pada senyawa organic. Selain itu senyawa alkaloid ini mudah terdekomposisi oleh panas, seperti senyawa kafein. Pada saat direbus senyawa alkaloid terdekomposisi oleh panas. Senyawa alkaloid tertimbun pada jaringan tumbuhan tertentu, dalam hal ini bukan daun sehingga tidak dapat dideteksi (Achmad, 1986). Pada praktikum ini ekstraksi daun tempuyung, mengkudu, pandan, katuk, dan binahong dilakukan dengan air, sehingga alkaloid tidak dapat larut dan saat diuji tidak dapat menunjukkan kandungan alkaloid.

KESIMPULAN
              Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa daun tempuyung, mengkudu, pandan, dan katuk mengandung flavonoid, sedangkan daun binahong mengandung terpenoid. Pada uji adanya senyawa alkaloid daun tempuyung, mengkudu, pandan, katuk, dan binahong menunjukkan hasil yang negatif dengan tidak terbentunya endapan coklat pada larutan, karena pelarut yang digunakan dalam ekstraksi adalah air.



DAFTAR PUSTAKA

Achmad S. A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Universitas Terbuka. Jakarta
Chintya, G, T, W., 2008. Potensi Ekstrak Tempuyung dan Meniran Sebagai Antiasam Urat: Aktivitas Inhibisinya Terhadap Xantin Oksidase. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Darsana, I. G. O. 2012. Potensi Daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli secara In Vitro. Indonesia Medicus Veterinus, Vol 1, No. 3, (Online) (http:// ojs.unud.ac.id, diakses pada 12 Desember 2013)
Nurjanah, Izzati, L., Abdullah, A., 2011. Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif Kerang Pisau (Solen spp). ILMU KELAUTAN September 2011. Vol. 16 (3) 119-124. ISSN 0853-7291.
Purba, S, 2007. Uji efektifitas ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia) terhadap Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae) di Laboratorium. Skripsi tidak diterbitkan. Medan. Universitas Sumatera Utara.
Prameswari, 2013. Uji efek ekstrak air daun pandan wangi terhadap penurunan kadar glukosa darah dan histopatologi tikus diabetes melitus. JURNAL PANGAN DAN AGROINDUSTRI vol .2 No. 2, 2013.
Sriningsih, Adji, H, W., Sumaryono, W., Wibowo, A, E., Caidir, Firdayani, Kusumaningrum, S., Kartakusuma, P. Analisa Senyawa Golongan Flavonoid Herba Tempuyung (Sonchus arvensis L.). Pusat P2 Teknologi Farmasi dan Medika Deputi Bidang TAB BPPT Fakultas Farmasi Universitas Pancasila.
Sirait, 2007. repository.ipb.ac.id/.../BAB%20II%20Tinjauan%20Pu. (online), diakses tanggal 12 Desember 2013.
Zain, Basyaruddin. 1978. The Effect of Katuk (Sauropus androgynus) Leaf Extract – Lemuru Fish and Vitamin E on Broiler Performance and Meat Quality. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. ISSN 1978 3000



AKLIMATISASI ANGGEK Dendrobium becaudatum DAN Dendrobium sylvanum



  1. Topik: Aklimatisasi Anggrek Dendrobium becaudatum dan Dendrobium sylvanum
  2. Tanggal: 3 Februari 2014
  3. Tujuan:
1.      Agar mahasiswa terampil dalam proses aklimatisasi anggrek
  1. Dasar Teori
1.      Kultur Jaringan Anggrek dan Aklimatisasi Anggrek
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, salah satunya adalah anggrek, diperkirakan sekitar 5000 jenis spesies anggrek tersebar di wilayah Indonesia, khususnya potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang memiliki nilai komersial tinggi. Tidak dipungkiri bahwa metode yang terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan anggrek adalah dengan kultur jaringan (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 2008 dalam Wardani, et al., 2008).
Kultur jaringan merupakan teknologi baru yang digunakan untuk mengisolasi bagian tanaman, protoplasma ke kelompok sel jaringan, serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap (Wardani, et al., 2003). Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangkan secara generatif, salah satunya tanaman anggrek. Menurut Sarwono (2002 dalam Wardani, et al., 2008) tanaman yang diperbanyak melalui kultur jaringan dapat diperoleh beribu-ribu bibit anggrek dari tanaman tunggal dalam waktu relatif singkat melalui salah satu jaringan meristem. Berbagai macam jaringan meristem yang bisa dipakai untuk kultur jaringan antara lain adalah ujung tunas, tunas samping, ujung batang, ujung daun dan tunas apikal.
Planlet yang dipelihara dalam keadaan steril dengan lingkungan (suhu, dan kelembaban) optimal, sangat rentan terhadap lingkungan eksternal. Planlet yang tumbuh dalam kultur jaringan di laboratorium memiliki karakteristik stomata daun yang lebih terbuka dan sering tidak memiliki lapisan lilin pada permukaan daun. Dengan demikian planlet sangat rentan terhadap kelembaban rendah. Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapangan maka planlet memerlukan aklimatisasi. Dalam aklimatisasai, lingkungan tumbuh (terutama kelembaban) berangsur-angsur disesuaikan dengan kondisi lapangan (Mariska dan Sukmadjaja, 2003 dalam Wardani, et al., 2008).

Media tumbuh bagi bibit merupakan lingkungan baru dalam proses aklimatisasi. Menurut  Bojwani  dan  Razdan (1983) dalam Dwiyani (2012), tahap aklimatisasi ini merupakan tahap yang paling krusial untuk menentukan keberhasilan perbanyakan  tanaman  melalui  kultur  in-vitro, sehingga perlu mendapat perhatian. Media tumbuh yang baik bagi anggrek (family Orchidaeae) harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain tidak cepat melapuk dan terdekomposisi, tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman, mempunyai aerasi dan draenase yang baik secara lancar, mampu mengikat air dan zat-zat hara secara optimal, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar, untuk pertumbuhan anggrek dibutuhkan pH media 5-6, ramah lingkungan serta mudah di dapat dan relatif murah harganya (Ginting, 2008 dalam Wardani, et al., 2008).
Faktor  yang  perlu  mendapat perhatian pada saat aklimatisasi adalah pemupukan (Andriyani  et al., 2006). Pemberian pupuk yang tepat untuk tanaman anggrek adalah melalui daun (Darmono,  1991).     Untuk  tujuan  efisiensi penggunaan  bahan  kimia  serta  biaya  maka frekuensi pemberian pupuk daun penting untuk mendapat perhatian. Frekuensi pemberian yang tepat diperlukan untuk mendapatkan pertumbuhan bibit yang paling optimal. Penyemprotan pupuk daun yang terlalu sering dapat mengakibatkan keracunan  pada  tanaman  anggrek  sehingga tanaman akan kering, namun bila tidak diberi pupuk daun maka pertumbuhan anggrek akan lambat dan pertumbahan anakan relatif tidak ada (Novizan, 2001). Frekuensi penyemprotan yang terlalu  jarang  kemungkinan  memberikan perbedaan yang kurang berarti dibanding tidak disemprot, sehingga manjadi tidak efektif (Dwiyani, 2012).
1.      Anggrek Dendrobium
Indonesia merupakan pusat keanekaragaman genetik beberapa jenis anggrek yang berpotensi sebagai tetua untuk menghasilkan varietas baru anggrek bunga potong, seperti Dendrobium, Vanda, Arachnis, dan Renanthera, maupun sebagai tanaman pot, seperti Phalaenopsis dan Paphiopedilum (Widiastoety, et al., 2010).
Penyebaran anggrek di Indonesia tidak merata, namun para pemburu anggrek telah mengetahui tempat-tempat yang menjadi pusat penyebarannya. Sejak dulu hingga kini, orang asing terus mengincar sumber daya genetik anggrek Indonesia untuk dimanfaatkan dalam perakitan varietas baru yang diminta pasar. Oleh karena itu, untuk mengembangkan anggrek di masa mendatang, anggrek-anggrek alam ini dapat dimanfaatkan sebagai induk silangan (Widiastoety, et al., 2010).
Dendrobium merupakan salah satu genus anggrek terbesar dari famili Orchidaceae, dan meliputi lebih dari 2.000 spesies (Uesato 1996). Dendrobium merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia, dan jumlahnya diperkirakan mencapai 275 spesies (Gandawidjaya dan Sastrapradja 1980). Spesies anggrek Dendrobium terbaik banyak terdapat di kawasan timur Indonesia, seperti Papua dan Maluku (Widiastoety, et al., 2010).
Anggrek Dendrobium banyak digunakan dalam rangkaian bunga karena memiliki kesegaran yang relatif lama, warna dan bentuk bunganya bervariasi, tangkai bunga lentur sehingga mudah dirangkai, dan produktivitasnya tinggi. Tingkatan warna anggrek Dendrobium sangat bervariasi. Umumnya, anggrek hibrida berwarna lembayung muda, putih, kuning keemasan atau kombinasi dari warnawarna tersebut. Beberapa hibrida Dendrobium hasil pemuliaan modern memiliki warna kebiruan, gading, atau jingga tua sampai merah tua. Dendrobium dapat berbunga beberapa kali dalam setahun. Tangkai bunganya panjang dan dapat dirangkai sebagai bunga potong (Puchooa, 2004 dalam Widiastoety, et al., 2010).
Menurut Dressler dan Dodson (2000) dalam Widiastoety, et al., (2010), klasifikasi anggrek Dendrobium sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisi        : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas        : Monocotyledoneae
Ordo         : Orchidales
Famili       : Orchidaceae
Subfamili : Epidendroideae
Suku         : Epidendreae
Subsuku   : Dendrobiinae
Genus       : Dendrobium

Para ahli botani mengelompokkan genus Dendrobium dalam beberapa seksi yang berbeda. Holttum (1965) mengelompokkan genus Dendrobium dalam 20 seksi, yaitu: 1) Diplocaulobium, 2) Desmotrichum, 3) Sarcopodium, 4) Bolbidium, 5) Euphlebium, 6) Latourea, 7) Callista, 8) Eugenanthe, 9) Nigrohirsutae, 10) Phalaenanthe, 11) Ceratobium, 12) Stachyobium, 13) Pedilonum, 14) Distichophyllum, 15) Rhopalanthe, 16) Aporum, 17) Oxystophyllum, 18) Strongyle, 19) Grastidium, dan 20) Conostalix (Widiastoety, et al., 2010).
Genus Dendrobium mempunyai keragaman yang sangat besar, baik habitat, ukuran, bentuk pseudobulb, daun maupun warna bunganya. Spektrum penyebarannya luas, mulai dari daerah pantai sampai pegunungan. Tersebar di India, Sri Lanka, Cina Selatan, Jepang ke selatan sampai Asia Tenggara hingga kawasan Pasifik, Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini. Tumbuh baik pada ketinggian 0 - 500 m dpl dengan kelembapan 60−80%. Budi daya anggrek yang paling mudah adalah yang berasal dari tempat asalnya (Waston 2004 dalam Widiastoety, et al., 2010).
Berdasarkan cara hidupnya, sebagian besar Dendrobium bersifat epifit, namun ada pula yang hidup sebagai litofit (Bechtel et al., 1992). Pola pertumbuhan Dendrobium termasuk simpodial, yaitu mempunyai pertumbuhan pseudobulb terbatas. Anggrek Dendrobium disukai masyarakat karena rajin berbunga dengan warna dan bentuk bunga yang bervariasi dan menarik (Widiastoety, et al., 2010).

  1. Alat dan Bahan

1.      Wadah plastik
2.      Pot besar dan pot kecil
3.      Pinset
4.      Sendok pengaduk
5.      Botol semprot
6.      Gabus
7.      Fungisida
8.      Mos halus
9.      Mos kasar
10.  Pakis
11.  Anggrek Dendrobium becaudatum “Red” x Self dan Dendrobium sylvanum
12.  Adaptan
13.  Pupuk
Anggrek Dendrobium sylvanum dalam praktikum ini diaklimatisasi menggunakan dua teknik aklimatisasi yang berbeda, yaitu single pot dan compot (community pot). Hasil pengamatan menunjukkan pada anggrek yang diaklimatisasi menggunakan teknik single pot, pertumbuhan anggrek lebih cepat, hal tersebut dapat diamati dari panjang dan lebar daun. Anggrek Dendrobium sylvanum yang diaklimatisasi dengan teknik single pot memiliki panjang dan lebar daun yang lebih panjang dan lebih lebar dibandingkan dengan anggrek Dendrobium sylvanum yang diaklimatisasi dengan teknik compot.
Kedua jenis anggrek yang diaklimatisasi dalam praktikum ini dapat tumbuh dengan baik, tidak mengalami kontaminasi oleh jamur maupun bakteri, tidak busuk dan tumbuh menjadi planlet bibit anggrek yang lebih besar yang kemudian akan siap untuk ditanam di lapangan.

Pembahasan
Aklimatisasi merupakan proses yang harus dilakukan setelah proses kultur jaringan sebelum planlet dibiakkan di lapanagan. Aklimatisasi merupakan proses adaptasi planlet anggrek hasil kultur jaringan. Planlet yang tumbuh dalam kultur jaringan di laboratorium memiliki karakteristik stomata daun yang lebih terbuka dan sering tidak memiliki lapisan lilin pada permukaan daun. Dengan demikian planlet sangat rentan terhadap kelembaban rendah. Mengingat sifat-sifat tersebut, maka sebelum ditanam di lapangan planlet memerlukan aklimatisasi. Dalam aklimatisasi, lingkungan tumbuh (terutama kelembaban) berangsur-angsur disesuaikan dengan kondisi lapangan (Mariska dan Sukmadjaja, 2003 dalam Wardani, et al., 2008).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan aklimatisasi adalah media dan pupuk. Media tumbuh bagi bibit merupakan lingkungan baru dalam proses aklimatisasi. Menurut  Bojwani  dan  Razdan (1983) dalam Dwiyani (2012), tahap aklimatisasi ini merupakan tahap yang paling krusial untuk menentukan keberhasilan perbanyakan  tanaman  melalui  kultur  in-vitro, sehingga perlu mendapat perhatian. Media tumbuh yang baik bagi anggrek (family Orchidaeae) harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain tidak cepat melapuk dan terdekomposisi, tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman, mempunyai aerasi dan draenase yang baik secara lancar, mampu mengikat air dan zat-zat hara secara optimal, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar, untuk pertumbuhan anggrek dibutuhkan pH media 5-6, ramah lingkungan serta mudah di dapat dan relatif murah harganya (Ginting, 2008 dalam Wardani, et al., 2008). Dalam praktikum ini terdapat dua macam teknik sterilisasi, yaitu single pot dan compot (community pot). Dalam teknik single pot, media yang digunakan adalah gabus yang dipotong kecil, mos halus, dan mos kasar. Dalam teknik ini, pot kecil diisi dengan gabus kecil setengah bagian pot, kemudian 1 planlet anggrek dibalut dengan mos halus kemudian mos kasar kemudian dimasukkan ke dalam pot. Sedangkan dalam teknik compot, media yang digunakan adalah gabus dan pakis. Dalam teknik kompot, pot besar diisi dengan gabus yang dipotong kecil ¾ bagian kemudian ditambah pakis hingga penuh. Planlet anggrek kemudian diletakkan diatasnya. Dalam 1 pot diisi beberapa planlet.
Macam teknik sekaligus macam media tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan anggrek. Hasil praktikum menunjukkan pada Anggrek Dendrobium sylvanum (kuning kehijauan gurat coklat melintir) yang diaklimatisasi dengan single pot dan compot menunjukkan pertumbuhan yang berbeda. Anggrek Dendrobium sylvanum yang diaklimatisasi dengan teknik single pot memiliki panjang dan lebar daun yang lebih panjang dan lebih lebar dibandingkan dengan anggrek Dendrobium sylvanum yang diaklimatisasi dengan teknik compot. Hal tersebut berkaitan dengan penyerapan air (makanan) oleh tanaman. Anggrek yang diaklimatisasi dengan teknik single pot medianya adalah mos halus, mos kasar, dan gabus. Paduan ketiganya menyebabkan penyerapan air oleh anggrek lebih optimal. Mos memiliki serabut yang memungkinkan menyimpan air lebih lama dibandingkan pakis. Selain itu dalam teknik single pot, dalam  1 pot hanya tersisi oleh 1 planlet, sehinga penyerapan air dan hara lebih optimal, karena tidak terjadi kompetisi antar tanaman. Dalam teknik compot, dalam 1 pot diisi oleh beberapa planlet, sehingga dimungkinkan terjadi kompetisi. Selain itu, media yang digunakan adalah pakis dan gabus kecil. Anggrek Dendrobium becaudatum “Red” X Self dalam praktikum ini diaklimatisasi dengan teknik compot.
Selain faktor teknik aklimatisasi dan macam media, pemberian adaptan, penyiraman, dan pemupukan merupakan faktor lain yang harus diperhatikan. Dalam praktikum ini ketiga aspek tersebut telah dilakukan. Penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Pemberian adaptan (2 g dalam 100 mL akudes) dilakukan dua hari sekali yaitu 30 enit setelah penyiraman. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar fisiologi dalam tubuh anggrek dapat berjalan optimal. Setelah beberapa minggu perlakuan dengan adaptan, pemupukan dilakukan dengan dosis yang sama dengan adaptan, yaitu 2g dalam 100 mL akuades. Darmono (1991) dalam Dwiyani (2012) menyatakan bahwa pemberian pupuk yang tepat untuk tanaman anggrek adalah melalui daun (Darmono,  1991).     Untuk  tujuan  efisiensi penggunaan  bahan  kimia  serta  biaya  maka frekuensi pemberian pupuk daun penting untuk mendapat perhatian. Frekuensi pemberian yang tepat diperlukan untuk mendapatkan pertumbuhan bibit yang paling optimal. Penyemprotan pupuk daun yang terlalu sering dapat mengakibatkan keracunan  pada  tanaman  anggrek  sehingga tanaman akan kering, namun bila tidak diberi pupuk daun maka pertumbuhan anggrek akan lambat dan pertumbahan anakan relatif tidak ada (Novizan, 2001). Frekuensi penyemprotan yang terlalu  jarang  kemungkinan  memberikan perbedaan yang kurang berarti dibanding tidak disemprot, sehingga manjadi tidak efektif (Dwiyani, 2012).
Kedua jenis anggrek yang diaklimatisasi dalam praktikum ini dapat tumbuh dengan baik, tidak mengalami kontaminasi oleh jamur maupun bakteri, tidak busuk dan tumbuh menjadi planlet bibit anggrek yang lebih besar yang kemudian akan siap untuk ditanam di lapangan. Hal tersebut dikarenakan semua aspek dalam aklimatisasi telah dilakukan. Sebelum pengaklimatisasian anggrek, sebelumnya anggrek telah diendam dalam larutan fungsisida agar menghindari kontaminasi jamur. Penyiraman denga air dan adaptan telah dilakukan dengan prosedur yang tepat sehingga menyebabkan pertumbuhan anggrek dapat berjalan dengan baik. Pemupukan juga telah dilakukan sesuai dengan prosedur, tidak terlalu banyak, maupun terlalu sedikit, sehingga anggrek dapat tumbuh optimal.

  1. Kesimpulan
1.      Dalam praktikum ini aklimatisasi dilakukan dengan dua teknik, yaitu single pot dan compot (community pot). Anggrek Dendrobium becaudatum “Red” X Self dalam praktikum ini hanya diaklimatisasi dengan teknik compot, sedangkan anggrek Dendrobium sylvanum diaklimatisasi dengan teknik single pot dan compot
2.      Dendrobium sylvanum yang diaklimatisasi dengan teknik single pot memiliki pertumbuhan yan lebih optimal dibandingkan dengan anggrek Dendrobium sylvanum yang diaklimatisasi dengan teknik compot. Hal tersebut berkaitan dengan macam media yang digunakan dari kedua teknik tersebut dan berkaitan dengan penyerapan hara oleh anggrek.
























DAFTAR PUSTAKA

Dwiyani, R. 2012. Respon  Pertumbuhan  Bibit Anggrek  Dendrobium sp. pada  Saat Aklimatisasi  terhadap  Beragam  Frekuensi Pemberian Pupuk  Daun. Agrotrop, 2 (2): 171 – 175.
Wardani, D. P., Solichatun, dan Setyawan, A. D., 2003. Pertumbuhan dan Produksi Saponin Kultur Kalus Talinum paniculatum (Gaertn.) pada Variasi Penambahan Asam 2,4-Diklorofenoksi Asetat (2,4-D) dan Kinetin. Biofarmasi, 2 (1): 35-43.
Wardani, S., Setiado, H., Ilyas, S. 2008. Pengaruh Media Tanam dan Pupuk Daun terhadap Aklimatisasi Anggrek Dendrobium (Dendrobium sp). Medan: Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Widiastoety, D., Solvia, N., Soedarjo, M. 2010. Potensi Anggrek Dendrobium dalam Meningkatkan Variasi dan Kualitas Anggrek Bunga Potong. Jurnal Litbang Pertanian, 29(3): 101 – 106.